Yang Lebih Penting

Di jerambah musala paling tua di desa kami, ada beberapa tetua, ustaz, santri, mahasiswa, dan beberapa masyarakat yang lain, bermula dari silaturahmi lebaran atau syawalan pembicaraan agak lebih seru ketika membahas tentang berbagai aliran atau sekte beratasnamakan agama yang banyak bermunculan..
Yang ustaz dan santri menjelaskan dalil-dalil dari Alqur'an, Hadis, dan penjelasan para Ulama dari kutubussalaf, kesimpulan mereka, manhaj yang benar adalah as sawadil a'dzam (golongan mayoritas) sebagaimana ditetapkan Rasulullah dalam Hadis sahihnya.
"Bukan maksud diskriminasi, tapi ahlu sunnah wal jamaah adalah konsep final yang dirumuskan ulama, masalah organisasi boleh beda, tapi manhaj murni dari Rasulullah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaganya. Sedangkan aliran, sekte, faham, dan ideologi yang lain mungkin perlu ditinjau ulang dan dikoreksi kembali," tutur sang ustaz menjelaskan, semua mengiyakan, karena memang begitu adanya.
"Masalah ideologi dipersilakan itu bagian dari tujuan undang-undang, tapi bila meresahkan dan mengganggu keamanan bisa dijerat hukum, apalagi bila menyangkut ranah politik (sistem negara) dengan mengubah pancasila, maka ia disebut makar atau pemberontak negara. Kasus radikalisasi sebagian kelompok berkedok agama, menurut saya tidak mencerminkan Islam rahmatan lil alamin yang dibawa Nabi Muhammad.." lanjut mahasiswa hukum dengan berapi-api.
Menjadi kesepakatan di sini dari pesantren dan akademisi bahwa, tidak ada agama yang datang justru meresahkan, Islam itu indah dan keberadaannya menentramkan, bukan sebaliknya.
"Saya setuju dan semua kemufakatan ini bisa dimaklumi oleh warga ketika diumumkan. Tapi, sebagai penutup, bagaimana pendapatmu Faruq, media informasi dan kajian-kajian tulisanmu mungkin sedikit menambahkan usulan kepada warga."
Saya sedikit kaget, karena paman tiba-tiba menodong argumen sebagai salah satu kebijakan orang banyak. Saya memang tidak suka berdebat dan adu persepsi, biarlah tangan saya (tulisan) yang berbicara di media. Tapi, jadi tidak enak bila paman berharap dan warga menunggu.
Ah, bismillah..
"Masalah aliran dan faham penting diinformasikan, tapi itu cukup ditangani tim dan orang-orang tertentu, di antara kita pasti segudang banyaknya mumpuni untuk mentabayun atau mengajak mereka dialog. Dan, yang lebih penting dan harus kita pikirkan adalah perkembangan ekonomi dan pendidikan karakter generasi muda. Khusus pendidikan akhlak, apakah madrasah, pesantren atau sekolah Islam lainnya intens mengawal siswanya? apakah anak-anak kita sudah terbekali ilmu agama yang cukup?. Insya Allah, dengan akhlak mulia dan ilmu agama yang luas kita tidak usah resah walau seribu orang datang mencoba merusak akidah, kita harus berpikir bagaimana mencetak ilmuan muslim tingkat dunia, agar Islam harum. Mohon maaf bila saya mengatakan, bila keadaan pendidikan Islam kita baik fisik dan sistemnya masih kurang bisa diharapkan.."
Semua diam.. saya berharap bisa difahami oleh sebagian warga di musala ini.
"Mohon maaf, kita terlalu sibuk mempertanyakan orang lain, menyalahkan orang lain, menvonis orang lain, sedangkan kualitas pendidikan sekitar kita tidak diperhatikan. Termasuk sekolah itu.."
Saya menunjuk gedung sekolah yang memprihatinkan, gedungnya retak, halamannya berumput panjang, cat dindingnya kusam, ditambah sistem dan gaji guru yang amburadul. Padahal, sekolah desa saya ini bernaung di bawah organisasi besar, iya, organisasi terbesar se Indonesia. Alhamdulillah, para warga sepakat menambah satu poin, memperhatikan pendidikan desa.. 
Saya berharap, yang di atas sana (pemimpin agama, negara, daerah, yayasan, organisasi, sekolah, dll) segera berbenah, membenahi pendidikan (umum dan agama) bangsa ini. Amin..
Yuk, kita mulai dari diri sendiri dahulu ya.. Bismillah..  

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Yang Lebih Penting"