• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Penghormatan Rasulullah kepada Wanita


Selesai mengaji kitab Qurratul Uyun, karangan Syaikh Imam Abu Muhammad, saya berdiskusi renyah dengan istri, bahwa, di dalam kitab fenomenal yang menjadi rujukan masalah sexologi Islam di hampir semua pesantren nusantara ini, ada tulisan menarik dari pengarang yang memuat Hadis tentang akhlak Rasulullah kepada istrinya.
Saya tidak membahas isi Hadisnya, tapi bagaimana Rasulullah menempatkan posisi istri (wanita) begitu terhormat. Diriwayatkan, ketika Rasulullah dan Sayidah Aisyah ra berkumpul dengan para sahabat, Sayidah Aisyah ra berkata, kalau pahala laki-laki kalah banyak dari perempuan dalam urusan rumah tangga. (Wong lanang ora oleh opo-opo; pribahasa Jawa). Mendengar hal itu, Rasulullah tersenyum.
Ya, hanya tersenyum, sama sekali tidak tersinggung, menyela atau membantah. Padahal, posisi Rasulullah adalah seorang Nabi, berpangkat presiden, manusia paling mulia di langit dan bumi, sayyidil anbiya' wal mursalin...
Di sinilah keindahan akhlak Rasulullah, di depan banyak orang (sahabat), walaupun "dikalahkan", beliau begitu menghormati istrinya. Hati suami, yang memosisikan istrinya di tempat terhormat menurut saya, ia laki-laki berhati mulia. Dan, begitulah sebenarnya akhlak yang diajarkan Rasulullah.
Karena, banyak sepanjang saya mengaji tentang masalah keluarga, para ibu-ibu curhat tentang prilaku suami mereka. Bahwa, gengsi hati laki-laki begitu tinggi, wanita harus kalah dan mengalah, nurut, diam, dan bahasa lain yang mengucilkan. Semoga suami Anda tidak demikian.
Islam memaknai pernikahan bukan depan dan belakang, menang dan kalah, kuat dan lemah. Jauh dari itu, bahwa pernikahan seharusnya menimbulkan sakinah (tenangnya hati), mawaddah (kemesraan dan kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).
Bagaimana mau sakinah/tenang (marem : Jawa), kalau yang dicari keegoan menang-kalah, apakah ada mawaddah/kemesraan bila yang dituju siapa kuat siapa lemah, dan mungkinkah ada rahmah/kasih sayang bila masing-masing si suami tidak menghormati istrinya dan si istri tidak memuliakan suaminya. Ora blas.. :D (pribahasa ; Bojonegoroan)
Yuk, tiru akhlak Rasulullah dengan mengkaji kitab-kitab Hadis dan tulisan para ulama. Dengan mengikuti pengajian para guru yang jelas keilmuannya. Bukan berguru pada syeikh "youtube" dan si mbah "google"
Wallahu A'lam
Share:

Memulai Usaha..


Memulai usaha itu..
Jangan terpaku pada modal gede
Jangan minder pada kompetitor (saingan)
Jangan takut rugi
Jangan khawatir bangkrut
Jangan khawatir gak bisa
Jangan banyak teori
Jangan banyak pikiran ini dan pikiran itu..
Lakukan saja, masalah teori dan segala bla-blanya urusan nanti, belajar sambil kerja itu seru dan penuh tantangan, niatkan satu untuk sarana ibadah kepada Allah, dua untuk membahagiakan dan membanggakan istri juga keluarga, tiga kalau sukses nanti bisa membantu orang banyak..
Itu saja..
(Qoute dari Abang saya)

Share:

GADGET VS TUHAN



Mulai bulan ini, kantor saya suruh untuk membuat rekapitulasi (rekap) pengeluaran uang pulsa dan paket internet, khusus handphone milik saya dan istri. Nantinya, akan dilaporkan bersamaan dengan rekapitulasi keuangan perusahaan.

Saya ingin tahu, apakah pulsa dan paket internet handphone melebihi sedekah yang saya keluarkan?, melebihi uang untuk membantu orang lain?, melebihi kebaikan lainnya?.

Atau, pulsa khususnya paket internet sudahkah saya gunakan dengan sebaik-baiknya, tidak hanya terpaku membuang waktu percuma, utak-atik gadget gak jelas dan tidak bermanfaat?. Bukankah semua yang saya lakukan nanti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah?.

Saya malu, sampai saat ini, pulsa adalah hal yang wajib diisi sedangkan kotak amal diabaikan, pulsa kadang lebih penting daripada shalat awal waktu, kaki lebih bersemangat melangkah ke counter melihat HP terbaru daripada mengunjungi kegiatan keagamaan di masjid. Handphone wajib dipegang sedangkan Al-Qur'an dibiarkan. Ibarat, HP menjadi "barang wajib" dibawa, ia seperti "barang mati" bila ia tidak berpulsa dan berpaket internet..

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu teman di emperan perpustakaan di salah satu kota, ia cerdas, hafal Al-Qur'an, ilmu dan pemikirannya luas. Banyak ilmu yang saya dapatkan bila duduk dan berbicara dengannya. Di tengah perbincangan, saya nyeletuk, "Sepertinya, kau tidak ingin pakai gadget seperti zaman sekarang.." ia diam dan tersenyum, kemudian memasukkan HP jadulnya setelah menulis sms.

"Reverensi pengetahuan saya di sana (ia menunjuk gedung besar perpustakaan), setiap haripun aku kesini, tidak dapat menelan semua ilmu yang ada di dalam sana. Aku juga punya wabsite untuk mengeluarkan pemikiran, laptop dan modem cukup. Sedangkan yang wajib aku bawa adalah ini (ia mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari tasnya). Sob, banyak sarana pengetahuan yang bisa didapat tidak dari gadget, apalagi kau tau, aku tipe orang yang ikut-ikutan, saya takut kalau gadget membuat saya lupa diri. Dan tentu, kau tahu kan Pak Ustaz, besok, apapapun yang kita lakukan, kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.." menohok sekali pernyataannya. Halus, tapi amat membuat saya malu sekali.

"Alasan lain?" saya mencoba mengorek pola pikirnya.

"Aku tanya, apakah kau atau siapa saja sanggup tidak megang gadget selama satu ming, dua hari, atau... satu hari saja?" saya benar-benar sulit menjawab pertanyaan ini.

"Gadget sekarang sudah menjadi "TUHAN", benar, butuhnya kau dengan gadget menyamai kebutuhanmu pada "TUHAN" yang tidak bisa ditinggalkan. Lihat, banyak orang belajar agama dari gadget, cari ilmu dari gadget, pola hidup dari gadget, tidak terasa hidupmu dibentuk oleh gadget. Semua prilaku hidupmu tidak dapat dipisahkan dengan gadget. Apapun alasan pembelaannya, kau lebih bernafsu ke gadget daripada berlama-lama beribadah menyembah Tuhanmu, kalau begitu, pentingnya gadget sejajar dengan pentingnya Tuhan agamamu. Bahkan, banyak yang lebih percaya gadget daripada firman Tuhannya. Seharusnya, kau harus membedakan, dimana posisi Tuhanmu, dimana letak gadgetmu.." Saya menunduk malu dengan perkataannya.

"Faman ya'mal mitsqaala dzaratin khairay yarah, waman ya'mal mitsqaala dzaratin syarray yarah. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebesar biji zarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya." Surah Al-Zalzalah ayat 7-8. Semoga menjadi prinsip hidup kita kawan..." ia menepuk pundak saya.

Suara teman penghafal Qur'an tadi sangat merdu, tapi terasa menyayat di hati. Kopi hitam kental Gresik yang terkenal, terasa amat pahit di lidah.

"Ini yang saya suka darimu kawan.." ia hanya tersenyum dan kembali membuka Al-Qur'an kemudian ia melalar hafalannya. GADGET VS TUHAN, mana yang lebih memikat?, tanyakan pada hati masing-masing..
Share:

Lomba Menulis FLP Lamongan


Share:

Selamat Jalan Para Syuhada'..


Jumat kemarin, tidak lama setelah masuk kantor tempat saya bekerja, handphone berdering berkali-kali, teman-teman alumni Madura memberondong saya dengan pertanyaan bertubi-tubi, 25 santri mengalami musibah dan tenggelam di bengawan (Jawa: sungai) berantas pinggir pondok..!!!

Allah.. saya langsung memacu motor ke pondok, tidak tahu, saya bisa membantu atau tidak, tergerak saja, karena merasa mereka adalah saudara-saudara saya, setelah memastikan kabar tadi ke pengurus pondok, badan saya lemas, 18 selamat, 7 hilang. Allah... kabar terakhir saat saya menulis status ini, enam santri ditemukan dalam keadaan syahid (meninggal), dan satu santri masih belum ditemukan.. Yassir umurona ya Rab..

Ingatan saya flash back ke sekitar tahun 2007 lalu, ketika masih mondok di Langitan, ketika ada teman asrama yang meninggal di sebuah sungai kecil daerah desa Kanor, Kab. Bojonegoro, saya tidak akan pernah lupa musibah ini, karena saya yang membopong jenazahnya.

"Santri Langitan, ora oleh nang bengawan... (santri Langitan tidak boleh ke sungai)" begitulah yang saya ingat dari dawuh almaghfurlah Romo Yai Faqih, setelah esok harinya memberi peringatan kepada semua santri di musala agung pondok. Entah, tapi itulah alasan utama, sampai sekarang, saya tidak berani bermain-main di sungai, bertolak belakang dengan kebiasaan masa kecil saya, yang sering menghabiskan waktu di sungai tidak jauh dari rumah.

Ada dua perasaan kuat dari musibah ini, susah dan senang. Susah karena melihat kabut duka meliputi Langitan, tempat saya menempa ilmu dahulu, teman, saudara, pengasuh, dan semuanya menitikkan air mata ketika satu persatu korban ditemukan. Semoga semuanya diberi ketabahan hati, dan sahabat-sahabatku khusnul khotimah.. Allah..

Senang, karena mereka cara mereka meninggal begitu mulia, mereka rata-rata berusia belasan tahun, belum baligh, dipanggil oleh Allah dalam keadaan mondok (mencari ilmu), saya tidak bisa menghilangkan keyakinan, mereka akan memperoleh surga-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, jujur, saya iri sekali.

Sahabat-sahabatku, berbahagialah para syuhada', saya, teman-temanmu, keluargamu, dan semua guru-gurumu, akan mengirimkan doa kebanggaan, doa keharuan, dan doa kebahagiaan akan kemuliaan yang kalian peroleh. Sekali lagi, berbahagialah, karena saya dan ribuan santri yang menshalatimu, menjadi saksi saat kalian menjemput syahid di medan ilmu.

Roobihyina syakirin - wa tawaffana muslimin
Wab'ast minal aminin - fi zumratis sabiqin
____
Duka Langitan, 7-10-16
Share:

Jurnalistik "Sampah"


Sudah beberapa tahun saya menggeluti dunia tulis-menulis, yang bahasa kerennya 'jurnalistik', baik cetak atau elektronik, lokal atau nasional. Bahasa dan ilmu jurnalistik sudah saya pelajari lama. Dari sekian tahun yang saya perhatikan, 'wajah' jurnalistik sudah berbeda, sekarang, banyak perorangan/penulis/wartawan yang menulis bukan berangkat dari 'hati', tapi ada 'niat lain' yang menyertainya.
'Niat lain' itu bisa saja, menulis untuk mencari uang, menulis untuk dipuji, menulis untuk mencari popularitas, menulis untuk menjatuhkan orang lain, menulis untuk sensasi belaka, dan tulisan-tulisan lain yang sebenarnya masuk dalam ranah 'niat negatif'. Kalau Anda penulis/wartawan yang demikian, semoga tidak banyak di tempat lain, karena Anda akan merusak tatanan dan kesejahteraan masyarakat, daerah, hingga bangsa ini.
Pun, melihat media-media yang tumbuh seperti jamur seperti zaman sekarang, rasanya sangat disayangkan sekali bila berbuat demikian, bahwa media dijadikan "lumbung" bagi tindak negatif, "sarana" keburukan. Saya sudah biasa mendapat "serangan" negatif lewat media, saya acuhkan, saya tidak akan meladeninya karena ia bukan seorang penulis sejati, kebetulan saja bisa menulis dan memakai "topeng" jurnalistik. kagak pengaruh bro..
Saya berharap, pelaku media (penulis-wartawan-dll) bisa menjadi motor penggerak kebaikan, memuat tulisan-tulisan yang menginspirasi masyarakat untuk maju, bukan memajang tulisan-tulisan yang membuat orang berburuk sangka, mengganggu ketenangan masyarakat, dan "akibat buruk" lainnya.
Mari kita berdoa, semoga para jurnalis bangsa ini setiap hari memamerkan tulisan "mutiara" yang indah dan membahagiakan, bukan tulisan "sampah" yang gaduh dan meresahkan. Amin...
Share:

"Generasi Copy Paste"


Saya pinjam bahasa di atas dari judul buku guru saya, Agus Alawy Aly Imron, seiring berjalannya waktu, kebiasaan "copy paste" menjadi hal yang lumrah, maklum, bahkan merupakan hobi. Saya sadar, betapa "meniru" atau bahasa kasarnya "menjiplak/membajak", terjadi dimana saja, dan dilakukan hampir oleh siapa saja.. (Ngelus Dodo..) grin emotikon
Setiap hari, hampir seratusan lebih pesan lewat Whastaap yang masuk. Dari nasihat, berita, humor, sampai tulisan curcol (curhat ndak jelas). grin emotikon apakah itu pertanda menguatnya minat masyarakat dalam baca-tulis? Saya tidak tahu.. smile emotikon
Yang pasti, dari ratusan tulisan itu, ada banyak yang sama, alias tulisan "copy paste", kalau dihitung cermat, hanya 25 tulisan saja, itupun, 25 tulisan tadi, kembali muncul berulang-ulang, pada hari-hari selanjutnya. Kalau begitu, saya ragu, jubelan tulisan yang masuk ke sms/whastaap, adalah murni dari si pengirim, dan bisa jadi, informasi yang saya dapat adalah info yang tidak benar, alias salah, bin hoax.
Tampaknya, banyak orang yang tidak peduli, sekali ada sms/whastaap masuk, langsung dishare membabi-buta ke ribuan temannya di medsos. Tanpa menelaah apakah informasi tadi benar atau salah, berakibat manfaat atau buruk, menguntungkan atau merugikan.
Kalau satu saja informasi salah atau provokasi, terus tersebar cepat ke semua orang, dan kemudian menjadi pembenaran di tengah-tengah masyarakat, tentu, kalau Anda cerdas, bisa memprediksikan akibatnya..
Itu mengapa, saya kurang begitu tertarik membaca, atau bahkan mengutip, beberapa seliweran tulisan yang bertebaran di medsos. Saya sering langsung menghapusnya malah.. grin emotikon toh, itu hanya tulisan "copy paste" yang "ndak jelas", ditulis oleh orang yang " ndak jelas" pula..
Semoga yang membaca tulisan ini, tidak termasuk "Generasi Copy Paste". Ami ya Rabbal alamiin...
Share:

Páginas vistas en total

H R Umar Faruq. Powered by Blogger.

Blog Archive

Yuk, Bergabung

Recent Posts