Tidak Kreatif

Beberapa teman saya bertanya kenapa banyak tokoh, pengamat, peneliti, bahkan KPI sendiri tidak respek (bahasa halusnya) kepada perfileman tanah air, atau bila menggunakan bahasa lugasnya, tidak setuju atau tidak melarang beberapa film untuk tayang. Malah, ada yang lebih ekstrem untuk melarang tayang. Kalau pun bioskop buka, pengunjung terbanyak pasti produk film luar negeri yang wah dan wow, katanya sih...
Salah satu tokoh nasional berkata, "Mana mungkin bangsa ini maju dan berkembang, bila sehari-hari yang dipertontonkan hanya sinetron. Tayangan melow, lebay, candaan tidak jelas hanya membuat bangsa ini tambah bodoh. Apalagi sinetron atau tayangan itu jiplak.." tajam memang, tapi mungkin akan menjadi bahan renungan yang bermafaat bagi sahabat sekalian. Memang Indonesia akan dibangun dan dikembangkan dengan sinetron? atau apa unsur pendidikannya sebuah sinetron, kalau sinetron sudah jauh dari mutu pendidikan kenapa masih ada dan bahkan digembar-gemborkan? Ah, saya kok meresa aneh dan pingin tertawa, tepatnya menertawai bangsa ini..
Sahabat, sebelum saya menjelaskan, lebih dahulu kita berdoa semoga bangsa tidak menjadi bangsa "peniru" atau "plagiat", tidak menjadi bangsa yang minder dengan dirinya, tidak menjadi bangsa yang menghilangkan jati dirinya. Tapi, menjadi bangsa yang maju dengan karya generasinya, menjadi bangsa yang percaya diri dengan kreasi anak-anaknya, menjadi bangsa yang antusias dengan bakti penerusnya.. Amin..
Banyak, bukan sepuluh film (sinetron atau acara lain televisi) seperti klaim KPI yang sebenarnya tidak layak ditonton. Seperti biasa, alasannya karena tidak mendidik, tidak selaras dengan budaya Indonesia atau tayangan itu jelas "plagiat".
Kenapa?
Karena bangsa ini kurang mengapresiasi budaya membaca dan menulis, saya katakan demikian karena membaca dan menulis bukan dianggap budaya di sini, juga penulis bukanlah sebuah profesi yang prestuge, menjanjikan, menggiurkan, atau mensejahterakan. Sampai hari ini, saya tidak pernah melihat antrin berjubel mendaftarkan diri menjadi penulis, bahkan Sekolah Menulis yang kami dirikan bersama teman-teman berkurang pesertanya dari hari kehari.
Okelah, banyak kiat untuk dari para motivator, tapi pada dasarnya, menjadi penulis bukanlah cita-cita utama yang masuk dalam kamus semua orang. Klasik, alasannya karena tidak bisa mencerahkan masa depan. Menjadi penulis memutuhkan perjuangan bertahun-tahun, itupun masih tidak tentu sukses atau tidak.. Semoga tulisan ini tidak mempengaruhi teman-teman..
Insya Allah, keadaan akan lain bila penulis mendapatkan tempat terhormat dan sebuah profesi seperti di Jepang, Korea, dan negara maju lainnya. Industri film di negeri sana sangat maju, dari mana imajinasinya? kalau tidak dari penulis dari mana lagi?
Terakhir, semoga tulisan ini dibaca oleh para produser film tanah air bahwa, banyak karya-karya tulis anak bangsa yang imajinasi dan kekuatan cerita atau gambarnya melebihi Harry Potter, Twiligh, Spider Man, Titanic, Naruto dan cerita-cerita box office lainnya. Industri film Indonesia hanya perlu sedikit mengapresiasi karya lokal dan menjadikannya kebanggaan kepada dunia internasional, tidak lucu dan sama sekali tidak kreatif bila tayangan film tanah air terang-terangan ceritanya menjiplak karya orang luar. Dan, agar buah pemikiran dan imajinasi bangsa ini tidak menjadi langganan isi rak di pedagang-pedagang buku loak pinggir jalan. Semoga!.
‪#‎Ironis‬, melihat buku-buku karya anak bangsa lusuh dan tercecer di deretan pedagang kaki lima di Jalan Semarang Surabaya..

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tidak Kreatif"